Dahulu dalam UN
bahasa indonesia setiap siswa disyaratkan membuat pidato, semalam
sebelumnya saya jalan2 pinggir kali dan melihat banyak sampah
ditepiannya..hal itu menginspirasi saya untuk mengambil tema lingkungan
dalam pidato saya. hari H ketika saya di panggil untuk membacakan pidato
saya..dalam teks pidato yang saya buat hanya berisi judul dan pikiran
utama setiap paragraf..saya mengikuti UN di SMK 2 Indramayu, karena
sekolah saya belum boleh menyelengarakan UN sendiri karena belum
akreditasi untuk sekolah baru..
urutan daftar untuk berpidato didepan kelas akhirnya jatuh kepadaku dan aku segera kedepan untuk berpidato. Ketika sedang asik berpidato ria didepan kelas bak bung karno berorasi tempo dulu..hehehe...saya melihat pengawas yang tepat duduk santai disamping kanan sedang merokok dan membuang puntungnya dengan santai didepan pintu kelas,,belum lagi dia bikin ektrajos trus bungkusnya juga dibuang "bleng" begitu saja didepan pintu kelas lagi dengan sepatu dikakinya yang setengah kaki masuk ke dalam sepatu…otomatis saya yang lagi berpidato didepan kelas secara penuh semangat dan emosional langsung menyinggung masalah itu dengan ucapan lantang " masyarakat perlu dididik kesadarannya tentang lingkungan, terlebih lagi mereka yang menjadi pendidik kita...!!!" dan saya lanjutkan lagi kalimat saya dengan lebih keras " dan mereka harusnya malu dengan semua itu, lihatlah disekitar kita, kita sudah bisa melihat moral itu mulai hancur oleh teladan pendidik yang yang tak terdidik ” ketika kalimat itu jadi bagian pidatoku, pengawas disamping saya itu langsung terhentak dengan muka yang terlihat kesal namun hanya diam pasrah.. dan sayapun kembali melanjutkan pidato saya hingga penutup salam.
Ketika hasil pidato bahasa Indonesia itu di umumkan dari semua siswa sekelas hanya saya yang tidak lulus dan dinyatakan harus mengikuti ujian ulang “HER”….di HER woi…koplok knuh “maaf emosi saya yang berlebihan kalo mengingat kejadian itu”. Pengawas tadi sama sekali tidak memberikan nilai yang bagus terhadap pidato saya ketimbang pidato temen-temen lain yang terkesan datar dan membosankan.
Ini hal terbodoh yang pernah saya lalui terhadap dunia pendidikan kita, dan harus membuat pidato baru karena saya di HER, kejadian tadi membuat saya semakin bersemangat lagi untuk berpidato membahas masalah tadi. Tapi seorang guru pembimbing saya menyarankan untuk menggunakan pidato yang telah dibuatnya, pertama saya menolak “saya tidak suka teks pidatonya yang terkesan monoton dan hanya membacanya dengan lurus didepan kelas, bapak kepsek yang saya hormati..bapak pengawas yang saya hormati…bla..bla…yang saya hormati…dan berikut daftar lain yang pengen dihormati.. hal itu begitu membosankan dan sungguh memuakkan” tapi ketika guru pembimbing saya bilang gini “ udahlah no, percuma pinter juga kalo ga lulus UN buat apa” waduh saya di skak mat dengan kata-kata itu, bagi saya sih ga lulus juga ga masalah, tapi melihat karena biaya sekolah juga orang tua sebagian besar akomodasi. Akhirnya saya menyerah dan menggunakan teks pidato itu walaupun membosankan..hufttttt…mending maen game daripada baca pidato itu, tapi mau gimana lagi.
Walaupun saya tidak menyukai pidato itu, kali ini saya dinyatakan lulus praktek pidato UN bahasa Indonesia..yah…ga ada kepuasan ujian pidato ini..
Itulah gambaran pendidikan kita,
ttd
korban,
urutan daftar untuk berpidato didepan kelas akhirnya jatuh kepadaku dan aku segera kedepan untuk berpidato. Ketika sedang asik berpidato ria didepan kelas bak bung karno berorasi tempo dulu..hehehe...saya melihat pengawas yang tepat duduk santai disamping kanan sedang merokok dan membuang puntungnya dengan santai didepan pintu kelas,,belum lagi dia bikin ektrajos trus bungkusnya juga dibuang "bleng" begitu saja didepan pintu kelas lagi dengan sepatu dikakinya yang setengah kaki masuk ke dalam sepatu…otomatis saya yang lagi berpidato didepan kelas secara penuh semangat dan emosional langsung menyinggung masalah itu dengan ucapan lantang " masyarakat perlu dididik kesadarannya tentang lingkungan, terlebih lagi mereka yang menjadi pendidik kita...!!!" dan saya lanjutkan lagi kalimat saya dengan lebih keras " dan mereka harusnya malu dengan semua itu, lihatlah disekitar kita, kita sudah bisa melihat moral itu mulai hancur oleh teladan pendidik yang yang tak terdidik ” ketika kalimat itu jadi bagian pidatoku, pengawas disamping saya itu langsung terhentak dengan muka yang terlihat kesal namun hanya diam pasrah.. dan sayapun kembali melanjutkan pidato saya hingga penutup salam.
Ketika hasil pidato bahasa Indonesia itu di umumkan dari semua siswa sekelas hanya saya yang tidak lulus dan dinyatakan harus mengikuti ujian ulang “HER”….di HER woi…koplok knuh “maaf emosi saya yang berlebihan kalo mengingat kejadian itu”. Pengawas tadi sama sekali tidak memberikan nilai yang bagus terhadap pidato saya ketimbang pidato temen-temen lain yang terkesan datar dan membosankan.
Ini hal terbodoh yang pernah saya lalui terhadap dunia pendidikan kita, dan harus membuat pidato baru karena saya di HER, kejadian tadi membuat saya semakin bersemangat lagi untuk berpidato membahas masalah tadi. Tapi seorang guru pembimbing saya menyarankan untuk menggunakan pidato yang telah dibuatnya, pertama saya menolak “saya tidak suka teks pidatonya yang terkesan monoton dan hanya membacanya dengan lurus didepan kelas, bapak kepsek yang saya hormati..bapak pengawas yang saya hormati…bla..bla…yang saya hormati…dan berikut daftar lain yang pengen dihormati.. hal itu begitu membosankan dan sungguh memuakkan” tapi ketika guru pembimbing saya bilang gini “ udahlah no, percuma pinter juga kalo ga lulus UN buat apa” waduh saya di skak mat dengan kata-kata itu, bagi saya sih ga lulus juga ga masalah, tapi melihat karena biaya sekolah juga orang tua sebagian besar akomodasi. Akhirnya saya menyerah dan menggunakan teks pidato itu walaupun membosankan..hufttttt…mending maen game daripada baca pidato itu, tapi mau gimana lagi.
Walaupun saya tidak menyukai pidato itu, kali ini saya dinyatakan lulus praktek pidato UN bahasa Indonesia..yah…ga ada kepuasan ujian pidato ini..
Itulah gambaran pendidikan kita,
ttd
korban,
Comments
Post a Comment